TEDxJakarta: “Ribut/Reboot”

Saturday, 31 August 2019

 

Ribut/Reboot

Pemilihan besar telah berlangsung, kita telah memilih. Sekarang saatnya kita melanjutkan atau menyusun ulang. Mulut-mulut bergula di episenter bebunyian kini mulai menyingkap taringnya. Bagaimana tidak, siapa yang tidak tergiur legitnya kue kekuasaan?

Sedang di tepi-tepi kekuasaan hanya gema yang terdengar. Semua kembali dengan kesehariannya. Lidah yang tajam beradu kini mulai bermanis manis menyembunyikan pisaunya. Sebagian riang dalam perayaan, sebagian lain meringkuk mengeringkan lukanya.

Semua bebunyian yang ramai membuat kita terlupa untuk mendengarkan suara yang bernas. Mengurai membutuhkan waktu dan tenaga. Tidak ada argumen yang tidak berasal dari keinginan melimpahkan martabat bagi sesamanya.

Amanat mesti terus menerus diuji dan diluruskan. Dan meluruskan mesti tidak kenal lelah.

~

It’s over, the people have spoken. We must now build out of the debris that we created. At the heart of the throne, jackals snarls baring their fangs. Who can resist savory taste of power?

While the fringes can only hear echoes as it dampen. Bitter words are now buried beneath layers of sweet, sweet, sweet regret. Beyond the festivities, the losers cower licking their wound.

Loud noises has made us overlook the voices we need to listen, we have forgotten the wisdom of the past. 
There are no ill intentions; what all of us want is to defend the dignity of our comrades.

No rule should escape scrutiny. And scrutinize we must.